WhatsApp Facebook Google+ Twitter BBM

​Peran Keluarga sebagai Garda Depan Pencegahan HIV/AIDS dan Masalah Sosial di Kota Kupang

Metronttdewa.com 09-10-2026 || 09:55:25

Kadis Kesehatan Kota Kupang, drg. Retrnowati

Metronewsntt,com, Kupang---Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, drg. Retnowati, menegaskan bahwa keluarga memegang peran dan fungsi yang sangat krusial sebagai garda terdepan dalam mencegah berbagai permasalahan sosial, kesehatan, serta penyimpangan perilaku pada anak.

 Menurutnya, penanganan masalah kesehatantermasuk pencegahan penularan penyakit tidak bisa dibebankan semata-mata kepada instansi kesehatan, melainkan memerlukan keterlibatan aktif dari unit terkecil di masyarakat, yakni keluarga.

​Untuk membentuk karakter anak serta mencegah penyimpangan perilaku maupun penularan penyakit, drg. Retnowati menjelaskan bahwa terdapat delapan fungsi keluarga yang harus berjalan secara optimal. Kedelapan fungsi tersebut meliputi fungsi agama, fungsi kasih sayang, fungsi sosial budaya, fungsi cinta kasih, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi dan pendidikan, serta fungsi ekonomi.

​"Untuk tindakan pencegahan, kemampuan kita itu tentang bagaimana terjadinya penularan, bagaimana terjadinya kasus tersebut, bagaimana penyebarannya, dan apa yang perlu diperhatikan. Namun, bagaimana bisa terjadi atau tidak, kembali kepada fungsi keluarga," ujar drg. Retnowati dalam keterangannya. Saat dikonfirmasi terkait kasus HIV/AIDS  di Kota Kupang, Rabu (7/10/2026) di ruangkerjanya.


Ia menyoroti pentingnya penanaman nilai keimanan, akhlak, dan moral melalui fungsi agama. Selain itu, fungsi sosial budaya dan cinta kasih juga memegang peranan penting untuk memberikan rasa aman, kehangatan, serta mengendalikan emosi di dalam rumah tangga.

​Dalam bidang kesehatan masyarakat, Dinas Kesehatan Kota Kupang tetap berkomitmen menjalankan kewajibannya dalam memberikan pelayanan dan menangani berbagai kasus penyakit yang ada. Jika ditemukan kasus yang bersifat meluas (difuse) dan terjadi di banyak wilayah, maka penanganannya akan diprogramkan melalui strategi nasional, seperti halnya penanganan kasus Tuberkulosis (TBC) yang saat ini menjadi salah satu fokus program nasional.

​Terkait dengan fenomena sosial di kalangan remaja, seperti anak-anak yang kerap berada di luar rumah hingga larut malam, drg. Retnowati mengajak para orang tua untuk melakukan introspeksi diri. Ia mengingatkan agar orang tua tidak serta-merta menyalahkan anak tanpa memahami alasan mendasar mengapa anak merasa tidak betah atau tidak nyaman di rumah. 

Perhatian yang cukup, pemenuhan kebutuhan ekonomi yang wajar, pengawasan terhadap pendidikan, serta pembinaan lingkungan yang bersih juga menjadi kunci utama dalam membangun karakter positif anak.

​"Hal-hal yang keterkaitan dengan kebersihan lingkungan, fungsi sosial, ekonomi, hingga perhatian kepada anak, semuanya itu dalam rangka kita membangun karakter," pungkasnya. (mnt)


Baca juga :

Related Post